Memaparkan catatan dengan label Rahmat Jabaril. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Rahmat Jabaril. Papar semua catatan

Rahmat Jabaril dan Ruh Chairil

Apa yang kau temukan ketika membaca buku kumpulan puisi dari seorang penyair yang pertama kali kau dengar namanya? Apakah perenungan, kekaguman, atau cuma sejumlah tanya yang bertalu-talu meninju akal yang yang sentiasa dahaga pada yang bernama Jawapan? Seorang pembaca yang baik, yakni pembaca yang tidak masuk neraka orang-orang tolol, seharusnya sentiasa merespon apa yang dibacanya, selain berusaha menggugat kekaguman melulu pada blurb bombastis sebuah buku, kalaupun ianya adalah kebenaran (oh, janganlah saya dilabel skeptis kerana kenyataan ini).

Tidaklah bertemu bulan yang dikhabarkan indah oleh penyair-penyair putus cinta itu jika kau sendiri tidak berani mendongak menentang bulan yang, oh, ternyata begitu hodoh kelihatan dari jendela kamarmu yang busuk oleh pengap bau rokok. Kerana fahaman dangkal ini juga, yang saya temukan entah dari mana, saya tanpa malu-malu menanyakan terus persoalan-persoalan yang saya temukan, misalnya ketika membaca buku kumpulan puisi “Patah” karya Rahmat Jabaril. Tentu saja saya tidak ke Bandung tanah kelahiran si pelukis juga penyair itu, tapi cuma “bertemunya” di laman sosial Facebook. Mujurlah.