Memaparkan catatan dengan label fared ayam. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label fared ayam. Papar semua catatan
Cerpen Percuma: Seminggu oleh Ayam Fared

Dalam tong sampah Ikea warna merah, hadiah bekas kekasih lama yang kini telah pun berkahwin dengan lelaki lain, ada kondom yang berisi mani, yang baru digunakan petang tadi. Tidak, bau mani tidak menyelubungi bilik ini.
Yang tertinggal dan terus berlegar kuat, selain kesunyian dan bunyi kipas yang telah tenat, cumalah bau popotmu, sebagai bukti sebuah rindu yang mestiku tahan lagi seminggu.
"You are god's little thumb."
SMS ringkas yang kau hantar pagi tadi, sebelum kau datang dan kita melangsaikan keinginan, masih tersimpan dalam inbox telefon bimbitku. Ya, telefon bimbit itu, yang tahun lepas dihadiahkan oleh adik perempuanku, yang baru sekejap tadi satu kelebihan aplikasinya ku tahu, lalu belajar menghantar MMS padamu.
Stabil, Fared Ayam : Kesakitan Yang Dilepaskan
oleh Wahyudi MY
Mahu tidak mahu, puisi seringkali menjadi alat untuk melampiaskan segala macam rasa seorang anak manusia yang menukangi puisi. Puisi menjadi ranjang, menjadi tempat pergumulan emosi, jiwa, atau rasa lainnya yang mulanya hanyalah gelora sebelum dituangkan dalam perkataan. Tiada bebanan bahawa kata yang lahir dari gelora itu harus dipersetujui secocok dengan intensik dan pretensik menuliskan puisi. Kononnya, puisi punya semacam mekanisme memilih pembacanya sendiri. Mekanisme kognitif ini boleh jadi berkait langsung dengan si penulis dimana penulis awal-awal lagi sudah punya gambaran tentang sekelilingnya termasuklah kelompok pembacanya. Sikap realis ini jarang ditemukan pada penulis puisi lainnya, yang lebih senang menyendiri di dalam kegelapan fahaman bahawa mempertimbangkan pembaca adalah sama dengan merendahkan “nilai” karyanya. Ini bisa difahami jika penulis adalah seorang penyair yang telah menuliskan berbelas-belas buku puisi , lalu mempertimbangkan pembaca cuma membataskan ruang gerak kreativitinya. Bagaimana pula jika dia adalah seorang penggiat teater yang, seperti penggiat teater lainnya, berakar kuat pada sikap realis semacam ini?
Mahu tidak mahu, puisi seringkali menjadi alat untuk melampiaskan segala macam rasa seorang anak manusia yang menukangi puisi. Puisi menjadi ranjang, menjadi tempat pergumulan emosi, jiwa, atau rasa lainnya yang mulanya hanyalah gelora sebelum dituangkan dalam perkataan. Tiada bebanan bahawa kata yang lahir dari gelora itu harus dipersetujui secocok dengan intensik dan pretensik menuliskan puisi. Kononnya, puisi punya semacam mekanisme memilih pembacanya sendiri. Mekanisme kognitif ini boleh jadi berkait langsung dengan si penulis dimana penulis awal-awal lagi sudah punya gambaran tentang sekelilingnya termasuklah kelompok pembacanya. Sikap realis ini jarang ditemukan pada penulis puisi lainnya, yang lebih senang menyendiri di dalam kegelapan fahaman bahawa mempertimbangkan pembaca adalah sama dengan merendahkan “nilai” karyanya. Ini bisa difahami jika penulis adalah seorang penyair yang telah menuliskan berbelas-belas buku puisi , lalu mempertimbangkan pembaca cuma membataskan ruang gerak kreativitinya. Bagaimana pula jika dia adalah seorang penggiat teater yang, seperti penggiat teater lainnya, berakar kuat pada sikap realis semacam ini?
Langgan:
Catatan (Atom)
Blog Archive
-
▼
2016
(8)
- ► April 2016 (1)
- ► Januari 2016 (1)
-
►
2015
(8)
- ► Disember 2015 (1)
- ► Julai 2015 (1)
- ► April 2015 (2)
-
►
2014
(1)
- ► Oktober 2014 (1)
-
►
2013
(12)
- ► Disember 2013 (3)
- ► September 2013 (1)
- ► Januari 2013 (2)
-
►
2012
(14)
- ► Disember 2012 (3)
- ► November 2012 (2)
- ► Oktober 2012 (6)
- ► September 2012 (3)
-
►
2011
(9)
- ► Disember 2011 (1)
- ► November 2011 (3)
- ► September 2011 (1)
-
►
2010
(33)
- ► Disember 2010 (1)
- ► Oktober 2010 (1)
- ► September 2010 (1)
- ► Julai 2010 (1)
- ► April 2010 (15)
Tentang NP
NP ialah sebuah majalah blog yang cuba menerapkan bahan-bahan penulisan sastera, budaya dan masyarakat terutama oleh penulis-penulis bebas dan baru. Anda juga boleh menyumbang hasil penulisan anda dengan menghantar ke: naskahpercuma@gmail.com