MenuIis Puisi, Meraikan Kehidupan


Jika kamu berharap menemukan tips-tips untuk menulis puisi yang bagus untuk dimuatkan dalam majalah DBP sila berhenti membaca tulisan ini sekarang juga. Kerana yang menulis ini sendiri, selama bergelar manusia tidak pernah tulisannya dimuatkan dimana-mana majalah DBP. Untuk apa juga kau memuatkan puisi di dalam majalah yang telah sekian lamanya gagal menjadi medium penggerak perkembangan puisi, sebagaimana seharusnya. Atau barangkali dengan mengirim puisi di dalam majalah itu, lalu akhirmya dimuatkan, menjadi tanda ukur yang membuat kamu fikir kamu telah berhasil menuliskan puisi? Mempertimbangkan pembaca sebagai medium untuk menilai sesebuah puisi tidak salah sama sekali. Tidak berdosa. Bahkan itu adalah proses dalam penulisan. Lain halnya jika ia menjadi tujuan. Mempertimbangkan pembaca sebagai tujuan, bukan saja si pengarang telah melakukan bunuh diri kreatif sia-sia dengan menyempitkan ruang gerak kreativitinya, tapi juga bakal dikutuk-sumpahi Dewi Puisi, blasphemer yang melayakkannya menghuni neraka tingkat 12. Di sini aku dirusuh tanya; lalu untuk apa menuliskan puisi?

Puisi dimulai dengan Kata yang hanya berupa bunyi. Kemudian menjadi aksara yang terlibat langsung dalam akumulasi ilmu pengetahuan, perkembangan cara berfikir, dan cara bagaimana nantinya kita menandai sekeliling kita. Bunyi dari aksara ini dibebankan dengan makna yang disepakati bersama (kelompok besar.) Makna yang datang kemudian ditukang sedemikian rupa dalam rangkaian kalimat-kalimat yang mengandungi apa yang digelar faktor literariness seperti rima, aliterasi, asonansi, repitisi. Unsur-unsur ini membawa kita kembali kepada asal-muasal Kata—bunyi. Bunyi dengan resonansi dan frekuensi tertentu lalu menciptakan intensiti. Intensiti inilah yang menggetarkan. Menggetarkan apa? Emosi, perasaan, nafsu. Apa saja. Dari intensiti ini wujud pula semacam ironi, kontras, atau paradoks dengan cantuman metafora dan imaji-imaji seakan rubik yang membentuk kolaj. Barangkali kolaj inilah yang disebutkan Chairil dalam kredonya sebagai ”suatu dunia”. Terpulanglah bagaimana buruknya ”dunia” (atau cuma lubang cacing) itu, sekiranya pembaca berjaya memasukinya, dapatkah dikatakan si pengarang berjaya menuliskan puisi? Lalu apa? Kembali menjalani kehidupan sebagai pelacur kepada bapak ayam bernama Benjamin Franklin? Atau cuma kembali menuliskan kata-kata pseudo-pujangga di status fesbuk?

Seringkali penulis, terutamanya penulis pemula melulu bersembunyi di sebalik apa yang dikatakan Derrida sebagai ”sejak kini puisi telah menjadi yatim piatu”. (Lebih tragis lagi jika ini cuma kebetulan dibacanya di Wikipedia!) Puisi bukanlah cuma otak-atik permainan bahasa belaka. Puisi tidak pula identik kepada gaya pengucapan tertentu. Tidak bertindak sebagai teka-teki atau silang kata yang meminta pembaca mengisi tempat-kosong-di-ruang-yang-disediakan. Puisi bukan lempar batu sembunyi tangan dimana penulis bersembunyi disebalik kegelapan makna atau ketidakjelasan maksud. Menganuti kepercayaan puisi yang bagus adalah puisi yang sukar dimengerti seringkali terjadi apabila si pengarang memiliki pengetahuan dan pengalaman minimum tentang tema yang ingin dibicarakannya.

Dalam sesebuah penciptaan puisi harus disertai semacam sikap. Sikap ini bagai mozek-mozek realistik dimana si pengarang dipertanggungjawabkan kembali dengan apa yang di’cipta’nya. Sikap kepenyairan ini harus hadir dalam apa yang dituangkan dalam perkataan. Aku kira, sebab itu penyair tidak dikatakan penyair jika cuma menuliskan satu puisi seumur hidupnya. Puisi tidak berhenti pada satu-satu posisi atau kesimpulan. Selamanya puisi adalah proses, percubaan penciptaan yang tak henti-henti.

Jika boleh diibaratkan, puisi adalah semacam perjalanan seorang musafir. Seorang musafir tidak cuma mencatat, tapi juga berusaha mengisi kekosongan tafsir. Usaha mengisi kekosongan tafsir ini adalah pergulatan dengan Kata itu sendiri. Berjaya atau tidak menguasai kata bukan pertaruhannya. Tapi tak lebih sejauh mana sosok pengarang berusaha mengakrabkan diri dengan jalan cerita yang dilumurkannya dengan cinta, benci, bahagia, kemarahan dan segala macam emosi dan rasa yang lainnya. Kadang dalam pengungkapan isi tafsir itu, antaranya ada yang tidak dapat diungkapkan seperti dalam struktur perbualan hari-hari. Di sinilah puisi dengan amsal-amsalnya bertindak sebagai ”poetic license” untuk memesong atau mengkhianati struktur-struktur yang sedia ada. Dalam kata lain puisi mengungkapkan apa yang bisa diungkapkan lidah, juga apa yang tidak bisa diungkapkan lidah.

Lalu kembali kepada pertanyaan untuk apa menuliskan puisi? Jujur saja, aku tidak tahu. Tapi sebelum kamu melulu memaki hamun aku kerana membazirkan beberapa minit dalam hidup kamu kerana membaca tulisan ini, biar aku sisipkan sekalian di sini apa yang diungkapkan dalam filem Dead Poet Society;

"We don't read and write poetry because it's cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for."



*oleh Wahyudi MY. Kali pertama dimuat dalam litzine Distorsi

2 comments:

Fai Zakaria berkata...

Nice!

Pali berkata...

Salam,memang power la artikel ni..btw,nak promot2 sket,haha,blog saya penuh dengan puisi2 dan ceritalara...penulisan yang gak boring tetapi perlukan perhatian untuk membina..

/pali

Tentang NP


NP ialah sebuah majalah blog yang cuba menerapkan bahan-bahan penulisan sastera, budaya dan masyarakat terutama oleh penulis-penulis bebas dan baru. Anda juga boleh menyumbang hasil penulisan anda dengan menghantar ke: naskahpercuma@gmail.com